Ke Mana Hilangnya Bakat-bakat Hebat Itu?

Saya selalu berdecak kagum setiap kali menyaksikan acara kontes pencarian bakat yang semakin marak diadakan oleh stasiun televisi swasta dalam negeri. Bagaimana tidak? Mereka, para peserta pencarian bakat itu, memiliki talenta yang sangat unik. Mereka mempunyai bakat yang sangat hebat. Bahkan dari awal audisi, saya selalu berpikir bahwa para dewan juri pasti kesulitan untuk menentukan siapa yang akan lolos ke babak final. Memilih bakat terhebat di antara yang hebat tentu saja akan menjadi tugas yang berat bagi dewan juri.

Namun ternyata kualitas, bakat, dan talenta saja tidak cukup menjamin suatu keberhasilan. Bakat-bakat hebat yang membuat para pemirsa dan dewan juri berdecak kagum pada saat audisi dan kompetisi itu tenggelam setelah mereka menyelesaikan perlombaan. Tidak perduli apakah mereka hanya sampai di final, 10 besar, 5 besar, 3 besar, atau jadi pemenang. Semuanya seperti hilang di telan bumi. Kebintangan mereka memudar seiring perjalanan waktu, seiring keluarnya mereka dari pintu karantina.

Saya tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Stasiun televisi? Para dewan juri? Penyelenggara kontes pencarian bakat? Para Penonton? Atau para bintang hasil kontes itu sendiri? Namun yang jelas mereka tidak pernah benar-benar bersinar di dunia hiburan tanah air, khususnya dunia tarik suara. Dalam pandangan pribadi saya, hanya Judika Sihotang yang layak disebut sukses sebagai produk kontes pencarian bakat. Setidaknya dia sudah menelurkan dua album dan mencetak beberapa hits yang sempat ngetren di jagat musik tanah air.

Akhirnya panggung musik tanah air dibanjiri selebritas yang mengail di air keruh. Aji mumpung istilah kerennya. Mereka yang tidak memiliki kemampuan menyanyi sama sekali dipoles oleh teknologi dan tampil lipsync di panggung musik dengan pede. Hasilnya dunia hiburan musik tanah air menjadi sangat membosankan. Kita hanya disuguhi tampang dan terkadang dengan bonus, you know lah. Lalu ke mana hilangnya bakat-bakat hebat itu?


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Bagikan artikel ini:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google
  • Digg
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Reddit
  • E-mail this story to a friend!
  • Yahoo! Buzz
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Tumblr

38 Responses to “Ke Mana Hilangnya Bakat-bakat Hebat Itu?”

  1. mrscat says:

    salah satunya salah kita juga sebagai penonton. kan namanya seni juga barang “jualan”, jadi apa yg dikarbit biasanya disesuaikan dengan demand. kalo demandnya penonton sekarang kan lebih banyak mengacu ke “penampilan” atau grup vokal remaja. jadi meskipun ada banyak bakat, sedikit yang bisa sampe ke taraf komersil, karena yg punya duit dan menanam modal untuk mengorbitkan bakat, lebih memilih pribadi2/grup2 yg menjual secara penampilan.

    • rotyyu says:

      Mmm.. betul juga sih…

    • Yudis says:

      Perlakuan industri musik di Indonesia berbeda jauuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh sekali dengan industri musik di Amerika Serikat terhadap juara American Idolnya. Juara American Idol sangat eksis dan hampir tidak ada juara American Idol yang tidak berhasil. Kelly Clarkson contohnya. Dia baru saja berhasil meraih Grammy Awards tahun 2013. Pasar musik di Indonesia sangat terpengaruh pada tren musik yang sedang disukai orang Indonesia dan lebih cenderung latah. Akhirnya muncullah boyband dan girlband Indonesia yang setiap tampil di acara musik hampir selalu lipsync. Mereka mengandalkan penampilan dengan baju mini nan seksi dan gerakan2 yang meniru K-Pop. Akhirnya, semuanya menjadi pengekor saja, tidak punya identitas. Penyanyi kaliber Indonesia seperti Sandy Sandhoro lah yang harusnya banyak diangkat.

      • rotyyu says:

        Produser-produser di Indonesia kelihatannya terlalu berorientasi bisnis jangka pendek. Yang penting ikut tren dan laku, kualitas mah belakangan aja diurus.

  2. Yudis says:

    Mari kita flashback lagi :

    1. Akademi Fantasi Indosiar : Siapa sih juara AFI yang sampai sekarang masih eksis di dunia hiburan ? Juara AFI yang paling berkualitas menurut saya adalah Tia, namun dia seperti hilang ditelan bumi. Ferry AFI….kemana dia sekarang?

    2. Indonesian Idol : Masih lumayan, karena ada Judika yang jadi vokalis Mahadewa. Anyway, Judika sebenarnya adalah juara II. Juara I nya adalah Mike Mohede. Delon juara I Indonesia Idol seri 1 (menggantikan Joy Tobing) sudah mengeluarkan beberapa album, namun tidak spektakuler. Juara Indonesian Idol yang paling parah adalah Januarisman alias Aris, yang lebih ngetop dengan kasus rumah tangganya.

  3. Pulau Tidung says:

    Ajang pencarian bakat memang spertinya hanya sekedar sebagai sarana mendongkrak rating saja buat stasiun tv penyelenggara. Nasib si finalis atau bahkan si juara setelah selesai acara, spertinya memang bukan prioritas….
    Ada sisi baiknya yang bisa menjadi pelajaran buat para pemilik bakat sekalipun: “Bahwa semua perlu proses dan perjuangan”

    Salam sukses

    Putra Pulau Tidung

  4. ujung - ujungnya semua acara itu duit untuk semua pihak……he…he…

    • rotyyu says:

      lowongan kerja: bukankah sebenarnya kalau para peserta khususnya juara pencarian bakat ini sukses di pasaran akan lebih menguntungkan untuk semua pihak?

  5. satriyanews says:

    kl menurut ane sih kembali ke bakat dan usaha masing”,. dari puluhan pemenang ajang pencarian bakat, mungkin sampai sekarang bisa dihitung dengan jari siapa saja yang masih eksis di dunia hiburan.. yang bukan pemenang kadang malah lebih eksis untuk saat ini..

  6. bwahyudi9 says:

    Semua itu tidak lepas dari balutan NILAI EKONOMI, acara itu umumnya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya (dari sponsor) dan pemirsa (SMS). Setelah acara itu usai, tetap, untuk mengorbitkan seseorang (termasuk sang Juara), kaitannya dengan NILAI EKONOMI: menguntungkan tidak ???

    • rotyyu says:

      bwahyudi: Lalu muncul pertanyaan lain, mengapa para juara Putri Indonesia misalnya malah bisa eksis di panggung hiburan tanah air? Apakah itu murni pencapaian mereka sendiri tanpa ada bantuan dari paniti penyelanggara kontes? Apakah mereka lebih bernilai ekonomis dibandingkan peserta kontes pencarian bakat?

      • Ardie says:

        Klo ngomong soal Putri Indonesia, mereka jelas punya tampang sama body. Jujur aja, klo ga spektakuler banget, di Indo blm menjual klo ga ada 2 itu. Semua cuma ngikutin selera masyarakat koq, ngikuti selera pasar.. dan saat ini seleranya ya begitu. Sayang sih..

        • rotyyu says:

          Ardie: Another question, lalu mengapa selama kontes para pendukung begitu ramai memberikan dukungan? Bukannya itu karena kontestan memiliki daya tarik yang menjual?

          • Ardie says:

            Apa bener pendukungnya ramai? selama ini nyaris ga pernah ditunjukkan brp total sms/dukungan yg masuk, yg disebutkan cuma persentasenya aja. Mungkin banyak yg suka nonton di TV, selain lagunya yg dinyanyiin bagus2, pesertanya banyak plus kemasan ajangnya memang bagus, tp berapa penonton yg bener2 kirim sms/dukungan? Anda pernah secara rutin ngirim sms mungkin?
            Nanti kalau sudah lepas dr ajangnya, tinggal penampilan sama lagunya, bagus apa engga..

  7. onlapak.com says:

    mungkin karena manajer mereka kurang pinter cari job..:)

  8. iwan says:

    Di Indonesia,ajang Pencarian bakat ini hanya Produk “franchaise” yang booming sesaat,ketika produk tsb di dagang kan di layar televisi,keuntungan di acara” ini jelas” ada pada naiknya rating acara tsb,banyaknya iklan yg masuk,pembagian nilai rupiah dari operator” tlp yg didapat dari kiriman SMS voting
    Sang pemenang akan mendapatkan hadiah utama yg sudah di kolek dari para sponsor,dan di kontrak oleh akademi acaranya,pembuatan album pun di batasi karena selama kontrak si juara hanya akan mengisi acara’ yg berhubungan dgn stasiun TV yg melombakan nya,,kasian memang “Juara” sesaat saja kemudian dilupakan karena tdk di management kan dgn baik dan profesional

  9. jabarmedia says:

    Yang menjadi trend adalah ajang pencarian bakat adalah ladang bisnis, pencarian bakat hanya perantaranya. Beres acara…. beres juga yang punya bakat.

  10. pengagum musikalitas says:

    yg paling bertanggung jawab:
    1. pihak media dlm hal ini televisi
    2. peng-sms (yg tak berbakat pun divote hbs2an)

  11. shak says:

    … dan semua ini hanyalah FASHION. (Koil - Megaloblast album))
    Fashion is a general term for a popular style or practice.
    Popular is liked, admired, or enjoyed by many people
    They love to be popular.They made them popular.They love to watched popular thing. We all.
    FASHION!!

  12. Acsire says:

    Hmmm, jadi menurut kalian semua, baiknya artis kita seharusnya seperti apakah?

  13. Acsire says:

    Hmmm, jadi menurut kalian, bagusnya artis kita seperti apakah?

  14. wah bakatnya itu hilang akaibat tidak dikembangkan lagi hanya untuk kompetisi semata dan penikmat dan pemenuhan di dunia televisi aja nih yang kemarin pun banyak pencari bakat sudah nggak muncul lagi di dunia tv

  15. hose says:

    mestinya di bedakan jadi 2 kelompok….penyanyi yg menjual tampang dan penyayi soul yg menjual vokal….
    lihat spt di amrik/inggris ada 2 jalan,contoh yg jual tampang spt westlife,generation,backstreet boys,taylor swift dll
    yg benar2 menjual suara spt whitney,mariah carey,celine dion,dll

    atau memiliki ke duany spt aguilera,britney,rihana yg memiliki sisi entertain luar biasa

    nah dgn adanya 2 jalan itu maka sang entertainer bisa memilih dia lebih klop di kelompok mana,tentu juga dituntut management yg oke juga….dgn bgitu indonesia akan kaya akan warna musik,ada yg cantik tapi ga bs nyanyi biasa akan jadi pencari sensasi,ada yg suara bgs tapi kurang oke wajahny biasa akan melalui jalan panjang untuk ke puncak,ada yg komplit spt anggun,agnes yg akan bersinar dlm wkt cpt

  16. Fans DEWA says:

    Saya rasa artis hebat karena ada bekingnya. masih inget gak kata2 dani bedanya KD sama regina, regina diva yg tiba2 muncul sedang KD diva yg dimunculkan. siapa yg enggak tau KD di beking pendanaan yg kuat untuk publikasi dan di dukung lagu2 yg bagus dari anang. jelas beda lah dengan penyanyi bagus yg enggak bisa bikin lagu atau enggak sangup beli lagu dari pencipta yg hebat. sehebat apapun menyanyi kalo enggak punya lagu hit dan publikasi yg bagus ya enggak ada yg tau. contoh dani orbitin anaknya yg enggak bisa nyanyi aja bisa dengan lagu yg bagus dan publikasi yg heboh. intinya siapa beking di belakang dia dan sepintar apa publikasinya. manajemen, keluarga, atau sensasi bisa jadi beking yg baik untuk terkenal.

    • agus says:

      dani kan kalo ngomong gga pake otak, siapa bilang KD dimunculkan, apa gga liat prestasi KD sebelum jadi DIVA? salah satunya dia juara ASIA BAGUS yaitu ajang pencarian bakat Internasional kalo kemudian banyak orang yang mendukung KD itu karena talenta dia dan kerja keras yang telah dia lakukan (kalo gga percaya baca buku KD supaya tau gimana susahnya dia jadi DIVA)

  17. agus says:

    yang paling sukses tuh DELON jadi salah kalo bilang Judika, DELON kan udah ngeluarin album 3 ato 4 trus maen film dah 2 kali

  18. ainun says:

    menurut saya sih, itu bukan salah siapa-siapa. Tidak ada kan yang menjamin orang keluar dr kontes pencarian bakat langsung bisa jadi terkenal dan long last? kalau dari sisi media, kontes itu hanya ‘jualan’, dari sisi masyarakat kontes itu ‘tontonan’ sementara dari sisi peserta kontes adalah ‘jembatan’. Jadi saya rasa semua sudah menjalankan porsinya masing-masing. Urusan terkenal atau tidak nantinya itu masalah takdir dan usaha si personalnya kan :)

  19. rotyyu says:

    Ardie: Kalau jumlah sms yg masuk sudah pasti jadi rahasia perusahaan. Tapi logikanya kalau memang jumlah sms yang masuk, sbg salah satu komponen pemasukan utk penyelenggara, tidak mencapai target yang diinginkan, apakah mereka masih akan melanjutkan suatu kontes?

  20. Ardie says:

    Aku rasa rating mungkin lebih penting, efeknya ke pemasukan iklan dsb sama tetep ada kemungkinan keuntungan dr kontrak finalis ajang2 ini. Mungkin jg ada lg yg lain. Tp yg udh pasti, jumlah sms yg masuk nyaris ga pernah dibuka, pdhl klo memang spektakuler pasti bs buat ngedukung image ajangnya. Begini aja, pas di ajang tersebut, dukungan marak, setelah berkarir sendiri2, pada banyak yg kurang menonjol. Jd nilai lebihnya ada pada ajang tersebut, bisa suasana kompetisinya, bisa excitement masyarakat melihat bakat2 baru, bisa juga dr cara juri berkomentar, dsb. Setelah lepas dr ajang tersebut, rata2 kudu berjuang sendiri, kudu konsisten, dsb yg lebih berat dr pada saat mereka “sekolah” di ajang2 tersebut. Dan pilihannya balik lg, spektakular banget atau kudu punya “looks” yg menjual, dan namanya menjual kudu ngikutin selera pasar.

  21. rotyyu says:

    Ardie: Mmm, yang ini sepertinya sangat masuk akal. Apalagi yg dikontrak itu kan hanya juara #1 ya..

Leave a Reply