Melongok Potensi Wisata Banyuwangi Bersama dBlogger Suroboyo

11 Jan 2014

Kabupaten Banyuwangi sebagai sebuah tujuan wisata selama ini lebih banyak dikenal dengan tiga ikonnya, Pantai Plengkung atau G-Land, Sukomade, dan Kawah Ijen alias Ijen Crater. Namun sesungguhnya kabupaten paling timur di Propinsi Jawa Timur yang juga dikenal dengan tag line Sun Rise Of Java ini memiliki banyak sekali potensi wisata yang sangat beragam. Hal inilah yang ingin diubah oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas. Berbagai usaha dilakukan untuk memperkenalkan dunia pariwisata Banyuwangi ke turis lokal maupun turis mancanegara. Salah satunya adalah mengundang 15 blogger dari Komunitas dBlogger Surabaya selama dua hari untuk plesiran bersama ke Banyuwangi.

Berangkat pukul 22.00 WIB dari Stasiun Gubeng, Surabaya menggunakan Kereta Mutiara Timur Malam, rombongan kami akhirnya tiba di Stasiun Karangasem, Banyuwangi sekira pukul 04.00 WIB. Inilah untuk pertama kalinya saya merasakan kemewahan kelas eksekutif di kereta api. Biasanya sih saya selalu menggunakan kereta ekonomi untuk alasan ekonomi pula :D. Perjalanan jauh yang harus ditempuh selama 6 jam sama sekali tak mematahkan semangat kami para kuli keyboard ini. Tak lama kemudian saya dan peserta lainnya sudah berpindah ke bus-bus bandara yang menunggu di luar stasiun. Tujuan kami selanjutnya adalah Hotel Mahkota di Jl. Yos Sudarso, tak jauh dari pusat kota. Hotel ini akan menjadi tempat transit sebelum kami memulai plesiran di Bumi Gandrung, Banyuwangi.

Hotel

Sentra UKM Panci dan Margo Utomo Agro Resort

Usai membersihkan diri dan menyantap sarapan roti yang disediakan pihak hotel, saya segera berlari kembali ke bus. Tak ada waktu istirahat untuk rombongan saya pagi ini. Perjalanan harus segera dilanjutkan! Objek wisata Banyuwangi pertama yang akan kami singgahi adalah Margo Utomo Agro Resort. Namun sebelum ke sana, ada sentra pembuatan panci di Dusun Tegal Pakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru. Bunyi denting palu beradu dengan alumunium terdengar nyaring saat saya menuruni bus. Di lokasi ini pembuatan berbagai peralatan rumah tangga dilakukan secara tradisional. Produk-produknya pun cukup beragam mulai dari panci, oven, cetakan kue, periuk, kuali, hingga cangkir-cangkir untuk menyeduh teh maupun kopi.

462cbdd179aa1c73009e5caa70925174_pesona-wisata-banyuwangi02

a8478bf61cc9f202547d602dc9e816e5_pesona-wisata-banyuwangi03

726e414b4119d392f42661bae7d13679_pesona-wisata-banyuwangi04

Margo Utomo Agro Resort sendiri terletak di Jl. Lapangan No. 10 Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru. Apabila datang dengan kereta, cara tercepat untuk menuju resort ini adalah turun di Stasiun Kalibaru. Dari sana pengunjung cukup berjalan sekitar 10 menit karena letak keduanya memang bersebelahan.

Margo Utomo Agro Resort punya sejarah yang cukup panjang. Pendirinya, R.H. Moch. Moestadjab, memulai usaha pengembangan perkebunan di tahun 1975. Saat itu ia memulai mimpinya untuk membuat sebuah perjalanan kembali ke desa hanya dengan dua kamar. Tak lama berselang, resort ini segera berkembang hingga menjadi 51 cottage. Bahkan ia kemudian berhasil membuka resort baru dengan total cottage sebanyak 30 unit pada tahun 1995. Setelah ia meninggal di tahun 2000, pengelolaan dua resort ini dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Sebagai sebuah proyek agro wisata, peternakan dan perkebunan menjadi atraksi utama di Margo Utomo Resort. Satu hal yang cukup menarik, semua hasil peternakan dan perkebunan digunakan untuk menyuplai kebutuhan tamu-tamu yang mampir. Penjualan ke luar baru dilakukan jika terdapat surplus hasil produksi. Awalnya saya sempat membayangkan peternakan sapi yang ada di resort ini layaknya peternakan-peternakan besar di Australia atau Amerika lengkap dengan koboi menunggangi kuda. Namun peternakan di sini jauh lebih kecil. Total ada sekitar seratus sapi yang dipelihara di sini. Menurut penuturan Pak Sudi yang menjadi manajer di peternakan Margo Utomo dari jumlah itu, hanya sekitar 38 ekor saja yang menghasilkan susu secara produktif. Selain menyediakan susu sapi segar, juga dilakukan pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan keju.

Hebatnya lagi para pengunjung tak hanya dapat melihat proses pengolahan susu, ereka bahkan dapat terlibat secara langsung. Misalnya saja dengan membantu melakukan pemerahan susu. Walaupun sesungguhnya Margo Utomo sudah menggunakan mesih untuk melakukan pemerahan, pengunjung yang tertarik akan diberi kesempatan untuk merasakan langsung sensasi memerah susu menggunakan tangan sendiri.

cc6500e2e85fe826dc012543ea19ab65_pesona-wisata-banyuwangi06

c2bff59bda50586c3c3b02e074ccd2a7_pesona-wisata-banyuwangi07

c77a83ba6a11aafc535db201fd380dc1_pesona-wisata-banyuwangi08

a27e299943f47a574ce30e57aa0121ed_pesona-wisata-banyuwangi09

2d247f570d11799d620f8a2ec3d3b174_pesona-wisata-banyuwangi10

Puas melihat peternakan sapi, kami beralih ke perkebunan yang terletak di belakangnya. Di sini terdapat berbagai tanaman rempah-rempah yang dulu menjadi rebutan para penjajah dari tanah Indonesia. Para pengunjung akan diajak untuk melihat secara langsung perkebunan kopi, vanili, lada, pala, kayu manis, dan kelapa. Jika sedang beruntung, kita juga dapat menyaksikan para pekerja yang sedang menyadap air nira yang nantinya digunakan sebagai bahan pembuatan gula merah.

7a22c9018e1412365a25d7ccc0e32626_pesona-wisata-banyuwangi13

49f9a8b193d3c1f10889be0628e462ea_pesona-wisata-banyuwangi14

0b67465956525b87ffce4cf13c1c7da1_pesona-wisata-banyuwangi15
559731b2a89f706fcd2853b0bdbbd96b_pesona-wisata-banyuwangi16

Desa Adat Using Kemiren dan Sanggar Gejah Arum

Lepas tengah hari, perjalanan plesiran dilanjutkan menuju Desa Adat Kemiren. Desa ini merupakan satu dari sedikit desa yang masih mempertahankan budaya dan adat-istiadat Using. Konon Using merupakan istilah yang digunakan oleh Belanda untuk menyebut penduduk Bumi Blambangan yang tidak mau bekerja sama dengan pihak penjajah. Bahkan kala itu Belanda harus menghadapi perang puputan yang menentang upaya genosida yang mereka lakukan.

Di Desa Adat Kemiren, upaya-upaya restorasi budaya Using tampak dalam bentuk rumah adat yang terus dipertahankan. Usia kayu penyangga dan perabotannya yang sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun memang tak jarang menggoda para kolektor kaya untuk mencaploknya. Kita juga dapat menyaksikan budaya kopi yang sangat kental di kalangan masyarakat Using di desa ini. Para pengunjung bahkan dapat mencoba sendiri pembuatan kopi tradisional mulai dari proses penggongsengan, menumbuk, lalu mengayak hingga menyeduh.

e7ba1697eff553c4b979543f957ea738_pesona-wisata-banyuwangi21

c26babe1df98041e5e5c3a77dba5f7f0_pesona-wisata-banyuwangi22

10304c0a009aa88af362ff045c5568e1_pesona-wisata-banyuwangi23

347b0a523a89cd242572b56d05ecb136_pesona-wisata-banyuwangi24

Para penikmat kopi sejati juga pastinya tak akan melepaskan kesempatan bertemu salah satu maestro kopi yang ada di Indonesia. Beliau adalah Iwan Subekti, sang pendiri Sanggar Genjah Arum. Beliau juga akan dengan senang hati membuatkan seduhan kopi terbaik untuk para tamu-tamunya. Berbagai wawasan baru tentang kopi saya dapatkan saat mengobrol dengan beliau. Bahkan mereka yang bukan penikmat kopi sekali pun mungkin akan berubah pikiran saat bertemu dengan sang maestro dan mencicipi kopi racikannya. Berani mencoba?


TAGS Banyuwangi Wisata Sunrise Of Java Jawa Timur


-

Author

Follow Me