Othek: Orkes Lesung Nan Unik Dari Banyuwangi

15 Jan 2014

Sore itu aku masih duduk di dalam sebuah ruangan berukuran tak lebih dari empat meter persegi. Di pojok kiri ruangan di sisi bagian depan rumah terdapat sebuah meja kecil yang dikelilingi empat kursi kayu. Semuanya tampak antik, namun tetap terlihat gagah. Di salah satu kursi itulah aku mencoba melonggarkan otot-otot kaki yang mulai pegal. Telah seharian ia membawaku berjalan-jalan di beberapa tempat wisata di Kota Banyuwangi. Seandainya saja ia bisa bicara, pasti ia sudah berteriak-teriak dari tadi. Minta istirahat barang sejam atau dua jam. Tapi sepertinya ia harus puas dengan jatah mengasonya yang hanya beberapa menit saja. Di luar ruangan, teman-teman blogger sudah mulai bersiap-siap. Koordinator trip Plesiran Nang Banyuwangi juga telah mengingatkan semuanya untuk segera kembali ke bus. Ah, pada hal aku mulai menikmati suasana di rumah tadi.

Sanggar Genjah Arum sebenarnya masih masuk kawasan Desa Adat Kemiren. Saat turun dari bus, lamat-lamat terdengar bunyi alat musik perkusi yang mengeluarkan nada-nada yang unik. Aku mencoba mengingat-ingat alat musik apa kiranya yang menghasilkan lantunan irama seperti ini. Tak mungkin gendang. Tak mungkin pula gamelan.

Dug tek dug dug tek dug tek tok tek dug tek tok tek.

Alunan musik itu semakin keras lagi nyaring mana kala aku mulai memasuki bagian dalam Sanggar Genjah Arum. Alangkah terkejutnya begitu melihat sumber bunyi-bunyian yang aku dengarkan dari tadi ternyata adalah tiga lesung yang dipukul dengan alu. Lesung-lesung itu terbuat dari kayu memanjang. Bentuknya persegi panjang. Di salah satu sisinya, kayu itu dilubangi membentuk semacam parit di dalamnya. Saat masih digunakan menumbuk padi, bulir-bulirnya diletakkan di parit ini.

Jika dulu lesung-lesung ini diletakkan dengan bagian yang dilubangi di bagian atas, kini semuanya diletakkan sembarang saja. Ada yang menghadap ke samping, ada yang menghadap ke atas, dan ada pula yang telungkup. Fungsi utamanya kini memang tak lagi untuk menumbuk padi. Lesung sudah lama digantikan mesin giling yang lebih praktis, cepat, dan berkapasitas besar.

3be2da938f910dd79ef8b757c632285f_kesenian-othek-banyuwangi-001

Sajian lagu pertama selesai. Sepertinya itu adalah musik untuk menyambut tamu, kami para blogger awak dBlogger Suroboyo. Tiga perempuan lanjut usia yang sedari tadi memukul-mukul lesung melanjutkan ke lagu nomor dua. Bunyian-bunyian dengan irama yang terdengar nyaring di telinga kembali mengalun dari lesung-lesung itu. Aku mulai kagum.

Malam itu ada tiga ibu tua yang menjadi penabuh lesung. Biasanya mereka berenam. Mak Misni, Mak Ubuh, Mak Kusnah, Mak Surem, Mak Mislah, dan Mak Misna. Walau sudah tampak renta, mereka memiliki fisik yang cukup kuat. Kalau tak percaya coba saja ikut menabuh lesung sampai selesai satu lagu. Lengan dijamin akan terasa pegal. Bisa jadi tak kuat untuk menyelesaikan satu lagu saja.

Rata-rata usia mereka sudah di atas 80 tahun. Mak Misni misalnya sudah berusia 95 tahun. Beliau termasuk yang paling senior di antara rekan-rekannya yang lain.

d4b45af27e72e16a7397b58fd1e604e2_kesenian-othek-banyuwangi-002

Pada awalnya, tradisi yang oleh masyarakat Using disebut Othek atau Gedogan ini dimainkan saat masa panen padi selesai. Pergelarannya selalu menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat kala itu. Othek juga dimainkan sebagai suatu penanda adanya anggota masyarakat yang mengadakan hajatan. Kehadiran mesin penggiling padi sempat membuat kesenian ini tenggelam cukup lama. Kini para wisatawan yang sedang berkunjung ke Bumi Blambangan bisa menikmati pertunjukan Othek ini setiap saat di Sanggar Genjah Arum. Semoga saja ke depan seni tradisional ini dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan formal di kalangan Pemkab Banyuwangi. Selain itu, Othek dapat pula ditampilkan pada berbagai kegiatan promosi pariwisata seperti Festival Banyuwangi yang diadakan setiap tahun. Dengan demikian Othek tak akan punah dari peradaban Indonesia.

Setelah lagu ke-2 selesai, ada jeda yang cukup panjang. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk melihat-lihat bagian sanggar lainnya. Aku sempatkan juga untuk menikmati jajanan yang disajikan tak jauh dari tempat pertunjukan Othek itu diadakan. Jajanan yang tampak seperti Serabi ini dihidangkan dengan taburan parutan kelapa ditambah siraman gula merah cair di atasnya. Rasanya manis dan gurih. Sangat pas untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.

4f9297480070426fed28d53cbd8a466a_kesenian-othek-banyuwangi-003

6899a052843f2b76255fdd9f8156abd3_kesenian-othek-banyuwangi-004

Sesaat sebelum lagu selanjutnya dimulai aku sempat terheran-heran melihat dua alat musik berbeda kini hadir bersama Othek. Yang pertama sebuah Biola. Seorang lelaki bertubuh cukup tambun akan memainkannya. Suaranya tak terlalu merdu lagi saat sang pemain menyetelnya. Di sampingnya tampak pula sebuah Angklung yang berbeda dengan yang ada di Jawa Barat. Jika pada umumnya angklung dimainkan dengan diangkat lalu digoyangkan, di sini angklung dimainkan dengan dipukul. Yang akan memainkannya adalah seorang lelaki paruh baya.

Sejujurnya saja sebelum perpaduan musik lesung dengan biola dan angklung ini benar-benar dimainkan, aku sempat agak pesimis dengan hasilnya nanti. Namun decak kagum lah yang muncul. Aku tak henti-hentinya menyatakan kekaguman demi mendengar sebuah harmonisasi yang begitu manis. Aku benar-benar terhipnotis. Seolah-olah apa yang ada dihadapanku saat itu bukanlah sebuah pergelaran musik tradisional yang hampir punah, melainkan sebuah permainan orkestra yang dimainkan dengan sangat cantik.

0a7bc390692b226bcb1f3a249ed0ea69_kesenian-othek-banyuwangi-006

57fe8faed34d4ed6010214d6845dd27d_kesenian-othek-banyuwangi-005

Beberapa teman blogger akhirnya memberanikan diri untuk mencoba ikut memainkan musik yang berhasil membuatku tercengang ini. Satu. Dua. Tiga. Hingga beberapa orang menjajalnya. Meski sempat malu-malu aku pun akhirnya tak luput menjadi bagian dari orkestra tradisional ini. Namun dasar tak punya bakat seni, berkali-kali aku lari dari nada dan tempo yang sedang dimainkan. Aku benar-benar tak dapat mengikuti alunan musiknya. Ya sudahlah pikirku waktu itu, mungkin memang tak ada bakat bermain musik mengalir dalam darahku. Aku akhirnya melambaikan bendera putih tanda menyerah :D


TAGS Banyuwangi Musik Tradisional Jawa Timur Wisata Budaya


-

Author

Follow Me